Rancaekex dan Banjir Kahatex
Oke, ini muthia mau UN, kok malah ngeblog yak?
Sebenernya sih, muthia lagi sebel sama keadaan bandung tercinta ini. Apalagi Bandung Timur featuring Sumedang pinggir tempat muthia tinggal. Pertama sih karena banjir kahatex yang ga beres. Macetnya udah kaya mau mudik. Terus gimana jadinya kalo ini terjadi di musim lebaran yah? >skip. Oya kali ini muthia mau cerita tentang banjir rancaekek 19/4/13/.
Nah, sebenernya masalah ini bermula dari satu hal. Yaitu menjamurnya pabrik tekstil di Rancaekek dan ada satu yang sering disebut2 biang masalahnya yaitu.. sebutin aja ya, PT. Kahatex! Nih ya, kalo muthia pikir2 sih, bukan sepenuhnya salah kahatex. Pabrik itu berdiri atas ijin siapa? pemerintahkan? nah, itu dia. Pemerintah belum bertanggung jawab sepenuhnya atas musibah ini. Loh kok musibah? yaiyalah, orang itu jalan provinsi, ya pasti udah jadi jalan wajib banget dan dipake banyak orang. Muthia aja sekolah lewat jalan itu kok! belum lagi yang mau kerja dan sebagainya. Nah, muthia punya usul buat semua warga bandung timur khusunya rancaekek. ini dia:
1. Untuk pemerintah
Pertama sih, untuk urusan ijin mendirikan pabrik di daerah sini kurangi dulu. kan udah keliatan dampaknya, air tercemar, udah gitu limbahnya dibuang sembarangan. masa nih, limbah itu malah dibuang ke jalan provinsi itu! Iya, itu mah ulah pabriknya. Tepat di depan pabriknya, air hitam menggenang. Untungnya volume kendaraan lagi dikit, coba banyak, pasti banjir tah!
Kedua, drainase dan jalan yang dibenerin! muthia liat, air yang dari jalan bukannya masuk ke selokan yang dibawah trotoar ituloh (apasih namanya? ah!). Iya, malah air dari selokan, masuk ke jalan. Kan bodor jadinya. Mungkin gorong2nya bisa digali lebih dalam lagi, biar volume airnya juga bisa banyak.
Ketiga, sediakan tempat untuk para pedagang yang di pinggir jalan, bahkan ada yang di tengah jalan. Kalo diusir, kasian kan mau hidup darimana? Sediain deh.
Keempat, beri kita tempat sampah! Ya, masalah banjir kan ga jauh dari sampah dan drainase yang buruk, gimana kita mau tertib coba? Guru TK saya bilang begini "Buanglah sampah pada tempatnya". Lah, tempat sampah aja kaga ada gimana mau bersih? Jadilah sampah yang tersebar di pinggir jalan, nutup lubang air di trotoar, dan banjir.
2. Untuk pimpinan pabrik
Urusin deh itu limbah, jangan dibuang sembarangan. Apalagi kalo ke jalan. bikin sungai buatan kek, kan kalian berbuat, tanggung jawablaaa ~
3. Untuk warga pabrik, warga rancaekek, dan manusia yang ingin hidup makmur
Mau gak buat menata kembali lingkungannya? Dari contoh kecil aja, bersihin depan rumah sendiri atau pun buang sampah yang rapih(tidak sembarangan dan tidak tercecer). Selain menata, ikut juga menjaga aset-aset yang ada. Misalnya trotoar yang seharusnya untuk berjalan kaki, malah dipakai untuk TPS(Tempat Pembuangan Sementara). Hal ini sangat memprihatinkan mengingat warga sekitar juga sudah memperoleh pendidikan. Inikah hasilnya?
Olrait.. Mau bagaimanapun, pemerintah, pemilik industri, juga masyarakat harus saling kerjasama dan berkolaborasi buat mewujudkan lingkungan yang bersih, bebas banjir, dan jadi ga macet. Dan itu, memang ga mudah geeengs. Tapi setidaknya, kita tahu apa yang mesti dilakukan dan mulai mengerjakan dari hal sederhana.
*5 tahun kemudian, alhamdulillah saya lihat ada penggalian drainase pada bulan Februari 2018 kemarin, dan pedagang sudah mulai tertib. Namun, jika hujan besar banjir masih tinggi dan berdampak pada kemacetan lalu lintas. Waktu 5 tahun pun ternyata bekum cukup ya, untuk mengatasi masalah ini. Terakhir, semoga warga Rancaekek makmur dan sejahteraaa duduududuu ~~
Komentar
Posting Komentar